17.3 C
New York
Sunday, October 1, 2023

Buy now

Inilah 7 Makna Manusia Sebagai Citra Allah

Inilah 7 Makna Manusia Sebagai Citra Allah, Amorpost.com-Sebagai umat Katolik, pasti pernah mendengar frase singkat Imago Dei atau Image of God. Frase singkat itu tertuju pada manusia sebagai gambar Allah.

Mungkin, kalian berujar, “Ah udah basih” ngobrol soal Imago Dei. Atau lebih lanjut berujar “Emang Gue pikirin?

Huish”…Jangan salah, justeru frase singkat itu, kita bisa live in peace and harmony sekarang. Kalian tahu gak kalau Human Rights atau HAM itu dasarnya dari itu.

Gadis Timor (Foto: emiliasfs)

Nah, manusia itu dhargai dan dihormati karena martabatnya. Namun, tahu gak darimana konsep itu berasal? Guys, manusia sebagai gambar dan rupa Allah itu asalnya dari Kitab Suci (Kitab Kejadian 1: 26). Dan justeru itulah harkat dan martabat manusia itu berasal.

Memang, Kitab Suci itu bukan buku sejarah, namun buku iman. Jadi, umat Katolik perlu pikirkan itu.

Lalu, pertanyaannya, apa sih makna terdalam mengenai Imago Dei itu? Berikut ini 7 Kebenaran mengenai Imago Dei atau manusia sebagai gambar dan rupa Allah yang sepatutnya diketahui.

1. Manusia Itu Sakral dan Bermartabat

Imago Dei
Imago Dei (Foto: unsplash)

Pernyataan bahwa pribadi manusia diciptakan menurut gambar Allah mau ditegaskan bahwa manusia itu sakral dan bermartabat. Ajaran Sosial Gereja mendasari pengesaanya mengenai martabat pribadi manusia dan keberadaan hak asasi manusia pada kebenaran dasariah pribadi manusia sebagai Gambar Allah.

Mungkin perlu ditanyakan, apa sesungguhnya manusia itu sakral dan bermartabat? Apakah itu artinya manusia itu tidak pernah berbuat dosa? Tentu tidak.

Kesakralan manusia itu berdasar pada pengetahuannya tentang dari mana ia berasal dan kemana akhir dari hidup ini. Lebih jauh, kesakralan manusia itu terletak pada pirbadi manusia berakal budi dan berhati nurani.

Itulah yang membedakannya dari binatang. Akbitanya, kita tidak memperlakukan sesama kita seperti kita memperlakukan binatang.

2. Manusia Berdimensi Spiritual

Dengarkan apa yang mau Tuhan katakan.
Dengarkan apa yang mau Tuhan katakan. (Foto: pixabay.com)

Allah telah menjalin hubungan dengan kita sehingga pribadi manusia tidak dapat dipahami terlepas darinya. (Ini adalah kritik terhadap ideologi yang mengabaikan dimensi spiritual pribadi manusia dan tidak melindungi kebebasan beribadah)

Akibat dari pemahaman seperti itu, keberadaan manusia itu tidak boleh direduksi pada materi belaka. Kita ini bukan hanya tubuh, tetapi juga roh. Dengan demikian kita menghormati siapapun yang menyembah Tuhannya atau pun yang transendence apapun sebutannya.

3. Allah Setia pada Relasinya Dengan Manusia

Yesus memberi makan 5000 orang
Yesus memberi makan 5000 orang (Foto: suarawajarfm.com)

Dengan klaim bahwa manusia sebagai gambar Allah berarti Allah tetap setia pada relasinya dengan kita. Berada di dalam gambar Allah adalah tak tergantikan.

Akibatnya, tindakan diskriminasi, ataupun penganiayaan dalam berbagai bentuk apapun, tak akan menghapus kodrat kita sebagai gambar Allah itu. Itulah sebabnya walaupun kita dipenjara oleh karena kebenaran, martabat kita sebagai manusia tetap tak tergantikan.

Simplenya, kalau seseorang dipenjara, dia bukan binatang. Dia tetap manusia.

4. Allah adalah Tujuan Akhir Manusia

Transfigurasi
Transfigurasi (Foto: www.qumran2.net)

Kita semua berbagi suatu kondisi manusia yang sama yakni terarah kepada suatu tujuan yang sama yakni Allah. Dengan demikian kita bersolider dangan orang lain, bekerja sama, dan saling menghormati satu sama lain meskipun mereka berasal dari ras, agama, yang berbeda.

5. Manusia Bukan Ditentukan Prestasinya

Iri Hati
Iri hati (Foto ilustrasi dari indianexpress.com)

Martabat manusia pada akhirnya tidak bergantung pada prestasi manusia. Oleh karena itu, yang lemah, orang sakit, orang cacat, orang miskin, orang-orang di pinggiran masyarakat layak mendapat perlindungan dan rasa hormat sama sebagai manusia.

Akibatnya, kita dengan tegas menolak Aborsi, Eutanasia, diskriminasi terhadap kaum minoritas dan yang lumpuh atau cacat. Mereka semua merupakan kehadiran diri Allah.

6. Manusia Sebagai Pribadi yang Relasional


Jika Allah adalah Tritunggal dan hubungan pribadi secara Trinitarian ditandai dengan memberi dan menerima cinta, maka harus juga ada pemahaman komunitarian tentang orang yang menjadi citra Allah Trinitarian. Seseorang tidak dapat eksis dengan dirinya sendiri tapi selalu berhubungan dengan orang lain.

Partisipasi yang lebih dalam dalam komunitas manusia meningkatkan kemanusiaan setiap orang sementara kegagalan membangun komunitas mengurangi kemanusiaan dari semua orang.

Ini adalah kritikan terhadap individualisme, persaingan egois, dan aktivitas atau sikap lain yang membagi masyarakat dan mengurangi persekutuan manusia. Singkatnya manusia tak terlepas dari orang lain.

7. Tanggungjawab untuk Berbagi

Family Charity (Foto: https://www.pexels.com)

Pemberian diri yang tidak terpisahkan dalam kehidupan Trinitas juga harus menjadi hal yang integral dalam kehidupan manusia. Ada tanggung jawab moral untuk membagikan apa pun karunia, talenta, atau harta milik seseorang untuk kebaikan orang lain.

Ada kewajiban untuk berkontribusi pada kebaikan bersama dan membantu mereka yang membutuhkan. Oleh karena kita memiliki harkat dan martabat yang sama, maka kita tidak menganggap rendah mereka yang tidak memiliki apa-apa.

Lagipula semuanya bukan milik kita bukan? Kita hanya bekerja dan memiliki apa yang menjadi hasil kerja kita. Akibatnya walaupun kita kaya raya, toh kita hanya menikmati sesaat.

Semoga artikelĀ  ini berguna bagi kita semua. Salam Amores…

Sumber:
-. Theological Studies on Fundamental Moral Theology, Loyolah School of Theology, Ateneo de Manila University (Penulis adalah Alumnus dari Ateneo)
-. International Theological Commision: Communion and Stewardship
-. Uskup Robert Barron: Living as the Image of God: Created for Joy and Love

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

0FansLike
3,876FollowersFollow
0SubscribersSubscribe

Latest Articles